Kamis, 01 April 2021

Urgensi belajar bahasa Asing bagi kalangan Milenial

 



            Belajar merupakan kewajiban bagi kita sebagai makhluk dimuka bumi ini, baik belajar yang bersifat Agama maupun non-Agama. Tapi, pada tulisan kali ini saya lebih spesifik ingin mambahas tentang “urgensi belajar bahasa Asing bagi kalangan Milenial”.

            Bahwasannya tulisan ini berasal dari renungan saya sebagai penulis, ketika Ustaz Ahmad Ubaidi Hasbillah menjelaskan di dalam bukunya “40 Hadis Pengader Ulama”. Di mana hadis yang beliau kumpulkan ialah hadis-hadis yang sering disampaikan oleh almarhum Prof. Dr. Kh. Ali Mustafa Yaqub, Ma. selama mengajar beliau. Dan, hadis tersebut termaktub dalam buku “40 Hadis Pengader Ulama” pada halaman 56. Berikut redaksi hadisnya:

عن خارجة يعني ابن زيد بن ثابت قال: قال زين بن ثابت: أمرني رسول الله صلى الله عليه و سلم فتعلمت له كتاب يهود و قال إني والله ما آمن يهود على كتابى. فتعلمته فلم يمربي إلا نصف شهر حتى حذقته فكنت أكتب له إذا كتب و أقرأ له إذا كتب إليه

Terjemah: Dari Sayyidina Kharijah bin Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhuma’ mengisahkan bahwa ayahandanya, Zaid bin Tsabit berkisah,

“Aku diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam [untuk belajar bahasa Ibrani atau Suryani guna menerjemahkan surat-surat orang Yahudi]. Aku akhirnya mampu mempelajari surat-surat orang Yahudi tersebut untuk Nabi.”

“Demi Allah, sumgguh aku akan buktikan kepada orang Yahudi bahwa aku mampu menguasai bahasa mereka.” Kata Zaid penuh optimisme dan semangat membara.

“lalu, aku segera mempelajarinya. Tidak lebih dari setengah bulan, aku sudah menguasainya. Setelah itu aku selalu menuliskan surat Nabi ketika beliau ingin berkirim surat dengan mereka. Aku juga selalu membacakan untuk Nabi ketika beliau menerima surat dari mereka,” lanjut Zaid.

            Hadis di atas, menjadi landasan kita sebagai kaum mulim yang Milenial (kekinian). Agar, mempelajari bahasa Internasional atau bahasa lainnya. Karena, pepatah pernah berkata, “bahasa adalah jendela dunia”. Ketika kita telah mempelajari banyak bahasa, maka kita telah menggenggam dunia ini.

            Dalam hal ini, Ustaz Ahmad Ubaidi Hasbillah pernah berpesan dalam pengajian Mingguan di Masjid Munirah Salamah bersama para santrinya:

~ “Bahasa pengantar resmi adalah bahasa Arab dan Inggris”.

~ “Kita tidak bisa berdakwah lebih luas, tanpa Kita ketahui bahasa mereka”.

~ “Belajar bahasa Asing, sama saja atau setara dengan menjaga kelestarian bumi ini.”

~ “Gunakan potensi kalian sebaik mungkin, jangan disia-siakan.”

~ “Apapun yang kalian pelajari Insya Allah bermanfaat.”

Dan, salah satu pesan yang Ustaz Ubaid sampaikan, dan itu menurut saya penting ialah ketika beliau meyampaikan “barangsiapa yang memahami bahasa suatau Kaum, maka ia akan selamat dari kejahatan Kaum tersebut”.

            Dengan ini, marilah kita sebagai anak Milenial agar terus belajar bahasa, mengolah tulisan, dan menggunakan potensi keilmuan yang kita miliki. Agar, membentuk peradaban di Negara Indonesia yang lebih baik lagi dimassa yang akan datang.

            Di samping Ustaz Ubaid yang pernah menyampaikan tentang urgensi mempelajari bahasa Asing, Ustaz Subhan Mahsuni pun sebagai guru pengampuh “bahasa Arab” di Pesantren Darussunnah pernah menyampaikan tentang sosok almarhum Prof. Dr. Kh. Ali Mustafa Yaqub, Ma:

من فضائله أن لا يستحي أن يدرس مع تلامذه

الدراسة أهم شيئ عنده

يهتم في الدراسة إهتماما كبيرا

            Dengan tegas pada saat itu, Ustaz Subhan menyampaikan bahwa hal yang patut kita pelajari tentang sosok almarhum Prof. Kh. Ali Mustafa Yaqub, Ma ialah tidak memiliki rasa gengsi atau malu untuk mempelajari suatau hal yang baru dari muridnya, pendidikan adalah hal yang sangat urgen menurutnya, dan beliau sangat mementingkan pelajaran dari kegiatan lainnya dengan perhatian yang sangat besar kepada pelajaran tersebut.

            Di samping itu, Ustaz Subhan pun menyampaikan bahwa metode kalangan Milenial untuk mempelajari bahasa itu dengan tiga tahapan:

1. al-Istima’ (mendengar).

2. al-Kalam (berbicara).

3. al-Qira’ah (membaca.)

4. al-Kitabah (menulis).

            Dan, bagaimana pun kita sebagai santri Prof. Dr. Kh. Ali Mustafa Yaqub, Ma tentu harus patut bangga akan prestasi dakwah beliau yang sudah manca Negara dan bukan hanya dalam negri saja. Salah satu hal unik nya ialah ketika beliau menerima tamu kehormatan dari Presiden Amerika Serikat Barack Husen Obama yang pada saat itu mereka berdua berbincang selama 25 menit melihat indah nya Masjid Internasional di Jakarta yang bernama Istiqlal.

            Di samping pencapaian itu pula, beliau pun patut bangga dengan beberapa murid nya yang sudah sampai kemanca Negara seperti Gus Nadirsyah Hoseen sebagai Rois Syuriyah PCI NU Australia-Selandia maupun putra sulung nya sendiri yang bernama Ustaz Zia ul-Haramain yang telah menempuh pendidikan di Madihah dan Amerika Serikat perantara bimbingan dari beliau.

            Pelajaran yang dapat kita petik untuk menjadi bahan renungan kita ialah mari kita sebagai anak Milenial untuk terus belajar, menulis, dan berdiskusi kritis tentang fenomena yang terjadi di Negara ini. Dan, tak lupa untuk mempelajari bahasa Asing Negara Indonesia memiliki peradaban yang baik dimata kanca Internasional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Peran dan Kondisi Media Massa dan Demokrasi di Indonesia

​ Peran dan Kondisi Media Massa dan Demokrasi di Indonesia                              FAHRIZAL HISBULAH (11200510000130) Program Studi Kom...