Acara
kumpul ulama penyejuk hati merupakan suatu sinergi membangun pemahaman Islam
yang lebih moderat kembali ketika dihadapkan dengan beberapa persoalan
keagamaan. Tokoh yang hadir pada acara tersebut antara lain Prof. Dr. Abdul Mu’ti,
Kh. Bahauddin Nursalim, Alhabib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan, Dr. Ali
Nurdin, Dr. H. Das’ad Lathief, Prof. Dr. Kh. Nasaruddin Umar, dan terakhir
Prof. Dr. M. Quraish Syihab. Dan, pada pembahasan tersebut lebih dominan
menangani kasus terorisme dan pengeboman di Indonesia ini. Karena, bagaimana
pun pemahaman seperti itu lambat laun masih menjadi misteri dan kita pun tidak
mengetahui siapa dalang di atas kejadian.
Mba Nana sebagai pembawa acara dalam
diskusi ilmiah yang dibawakan dengan santai tersebut mulai memberikan satu dua
pertanyaan kepada para pemateri. Dan, pemateri pun mulai berbicara dengan
lugas, tegas, tapi tetap dengan santai kepada para audients (peserta) yang
berada di Zoom.
Menurut Abi Quraish Syihab, “jihad
bukan dalam bentuk perang” dan “mereka yang melakukan bom bunuh diri, itu salah
langkah”. Artinya, jihad tetap dalam sinergi dan spirit yang menggabungkan
antara agama dan ilmu agama. Pasalnya, jika kita tidak memiliki ilmu maka cara
atau thariqah nya pun akan salah. Dan lebih dari itu, Abi Quraish pun
mempertegas bahwa “orang yang melakukan bom bunuh diri, untuk membunuh orang
lain. Itu melanggar ajaran agama”. Artinya, agama seharus nya dijadikan sebagai
rahmat, kasih ssyang, dan perlindiungan kepada umatnya. Justru, mereka jadikan
agama ini sebagai alat mematikan kehidupan orang lain. Tentu, ini telah salah
arah dan perlu kita luruskan pola paham keagamaan yang seperti ini.
Dalam pembicaraan lain, Prof. Nassar
menyampaikan “Jihad itu sebenernya bukan buat mematikan orang, tapi justru buat
menghidupkan orang”. Bagaimana pun, ini semua terjadi karena kalangan muda atau
milenial kita kurang membaca teks-teks keagamaan secara menyeluruh dan tanpa
didasari pemahaman yang universal. Dan, menurut Prof. Mut’hi “kelompok muda
zaman sekarang tidak terbiasa membaca yag berat-berat”. Oleh karena itu, kita
perlu membuat narasi-narasi keagamaan yang lebih santun, tidak menindas satu
sama lain, dan terpenting tidak keluar dari koridor utama yaitu: al-Qur’an dan
sunnah Nabi Muhammad Saw yang pengamalan
dan pemahamannya telah diwariskan kepada para sahabat, tabi’in, tabi’tabiin,
sampai sekarang para ulama kita yng memiliki keterkaitan nasab kepada mereka.
Kiai Ali Nurdin
Ilustrasi sepakbola dalam menjalankan dakwah agama
Bahwasannya Kiai Ali Nurdin, salah
satu murid pertama almaghfurlah Kh. Ali Mustafa Yaqub beliau memaparkan “Kami
tidak mengajarkan menendang kaki lawan, tapi kita fokus mencetak gol”. Dengan itu,
dakwah memang seharus nya membangun sinergi kemasyarakatan yang intinya itu
membuat mereka yang awal nya tidak sadar tentang suatu hal, kemudian kita sadar
kan. Bukan, justru kita menciderainya hingga membaut mereka memiliki trauma maupun
penyakit dalam beragama.
Dan, dalam hal ini Abi Quraish pun
menyampaikan “semakin dalam ilmu seseorang, maka semakin tinggi toleransi
seseorang”. Dan, itulah yang membuat kenapa alim ulama kita ketika
menyelesaikan suatu hal atau pun problematika tidak terburu-buru dalam
menampilkan pendapat atau pun argumentasi. Dan, dimana nanti akhirnya akan
membingunkan umatnya itu sendiri.
Al-habib Jindan pun memaparkan hal
yang sama, bahwa “tugas kita mengajak kebaikan, bukan menghakimi seseorang”. Dan,
menurut beliau pula bahwa “dakwah wali songo itu dakwah yang paling sukses di
dunia ini”.
Gus Mus, anatara ilmu agama dan pemahaman agama
Gus Musa atau Kh. Mustafa Bisri
memaparkan “ilmu pengetahuan tentang agama itu sangat penting untuk pemahaman
agama”, dan “semua dai harus menghilangkan narasi kebencian, karena tidak cocok
dengan din al-Rahmah, Nabi al-Rahmah, dan Rahmatan lil alamin pun
tidak cocok”. Menurutnya pun, banyak dari kita mengucapkan Allahu Akbar,
tapi mengapa tidak bisa mengecilkan diri kita dihadapan Allah Subhanahu wa
Ta’ala.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar