Senin, 05 April 2021

Catatan Najwa: Kumpul Ulama Penyejuk Hati


 

Acara kumpul ulama penyejuk hati merupakan suatu sinergi membangun pemahaman Islam yang lebih moderat kembali ketika dihadapkan dengan beberapa persoalan keagamaan. Tokoh yang hadir pada acara tersebut antara lain Prof. Dr. Abdul Mu’ti, Kh. Bahauddin Nursalim, Alhabib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan, Dr. Ali Nurdin, Dr. H. Das’ad Lathief, Prof. Dr. Kh. Nasaruddin Umar, dan terakhir Prof. Dr. M. Quraish Syihab. Dan, pada pembahasan tersebut lebih dominan menangani kasus terorisme dan pengeboman di Indonesia ini. Karena, bagaimana pun pemahaman seperti itu lambat laun masih menjadi misteri dan kita pun tidak mengetahui siapa dalang di atas kejadian.

            Mba Nana sebagai pembawa acara dalam diskusi ilmiah yang dibawakan dengan santai tersebut mulai memberikan satu dua pertanyaan kepada para pemateri. Dan, pemateri pun mulai berbicara dengan lugas, tegas, tapi tetap dengan santai kepada para audients (peserta) yang berada di Zoom.

            Menurut Abi Quraish Syihab, “jihad bukan dalam bentuk perang” dan “mereka yang melakukan bom bunuh diri, itu salah langkah”. Artinya, jihad tetap dalam sinergi dan spirit yang menggabungkan antara agama dan ilmu agama. Pasalnya, jika kita tidak memiliki ilmu maka cara atau thariqah nya pun akan salah. Dan lebih dari itu, Abi Quraish pun mempertegas bahwa “orang yang melakukan bom bunuh diri, untuk membunuh orang lain. Itu melanggar ajaran agama”. Artinya, agama seharus nya dijadikan sebagai rahmat, kasih ssyang, dan perlindiungan kepada umatnya. Justru, mereka jadikan agama ini sebagai alat mematikan kehidupan orang lain. Tentu, ini telah salah arah dan perlu kita luruskan pola paham keagamaan yang seperti ini.

            Dalam pembicaraan lain, Prof. Nassar menyampaikan “Jihad itu sebenernya bukan buat mematikan orang, tapi justru buat menghidupkan orang”. Bagaimana pun, ini semua terjadi karena kalangan muda atau milenial kita kurang membaca teks-teks keagamaan secara menyeluruh dan tanpa didasari pemahaman yang universal. Dan, menurut Prof. Mut’hi “kelompok muda zaman sekarang tidak terbiasa membaca yag berat-berat”. Oleh karena itu, kita perlu membuat narasi-narasi keagamaan yang lebih santun, tidak menindas satu sama lain, dan terpenting tidak keluar dari koridor utama yaitu: al-Qur’an dan sunnah Nabi  Muhammad Saw yang pengamalan dan pemahamannya telah diwariskan kepada para sahabat, tabi’in, tabi’tabiin, sampai sekarang para ulama kita yng memiliki keterkaitan nasab kepada mereka.

Kiai Ali Nurdin

Ilustrasi sepakbola dalam menjalankan dakwah agama

            Bahwasannya Kiai Ali Nurdin, salah satu murid pertama almaghfurlah Kh. Ali Mustafa Yaqub beliau memaparkan “Kami tidak mengajarkan menendang kaki lawan, tapi kita fokus mencetak gol”. Dengan itu, dakwah memang seharus nya membangun sinergi kemasyarakatan yang intinya itu membuat mereka yang awal nya tidak sadar tentang suatu hal, kemudian kita sadar kan. Bukan, justru kita menciderainya hingga membaut mereka memiliki trauma maupun penyakit dalam beragama.

            Dan, dalam hal ini Abi Quraish pun menyampaikan “semakin dalam ilmu seseorang, maka semakin tinggi toleransi seseorang”. Dan, itulah yang membuat kenapa alim ulama kita ketika menyelesaikan suatu hal atau pun problematika tidak terburu-buru dalam menampilkan pendapat atau pun argumentasi. Dan, dimana nanti akhirnya akan membingunkan umatnya itu sendiri.

            Al-habib Jindan pun memaparkan hal yang sama, bahwa “tugas kita mengajak kebaikan, bukan menghakimi seseorang”. Dan, menurut beliau pula bahwa “dakwah wali songo itu dakwah yang paling sukses di dunia ini”.

Gus Mus, anatara ilmu agama dan pemahaman agama

            Gus Musa atau Kh. Mustafa Bisri memaparkan “ilmu pengetahuan tentang agama itu sangat penting untuk pemahaman agama”, dan “semua dai harus menghilangkan narasi kebencian, karena tidak cocok dengan din al-Rahmah, Nabi al-Rahmah, dan Rahmatan lil alamin pun tidak cocok”. Menurutnya pun, banyak dari kita mengucapkan Allahu Akbar, tapi mengapa tidak bisa mengecilkan diri kita dihadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Peran dan Kondisi Media Massa dan Demokrasi di Indonesia

​ Peran dan Kondisi Media Massa dan Demokrasi di Indonesia                              FAHRIZAL HISBULAH (11200510000130) Program Studi Kom...