Catatan dibalik Khutbah Idul Fitri 1442 H
Catatan
ini dibuat pada hari Sabtu, 15 Mei 2021. Berbicara tentang Idul Fitri pada
tahun ini, tentu berbeda dengan tahun sebelumnya. Pasalnya, ketika saya masih
berada di Pesantren Ayah saya sudah memberikan intruksi atau peringatan bahwa
“nanti jadi Khatib di Masjid al-Barkah siap atau gak?, saya menjawab “Insya
Allah, siap aja Yah”. Karena diberi waktu persiapan yang cukup lama kurang
lebih tiga bulan dari hari Raya, tapi saya baru menyiapkannya ketika hari akhir-akhir
menjelang pulang dari Pondok ke rumah. Dan, hal yang lebih tak disangka nya
lagi ialah teks Khutbah yang sudah dibuat ketinggalan di Pesantren. Karena,
pada saat itu terlalu sibuk dengan kegiatan dan persiapan pulang yang membuat
saya lupa akan membawa teks tersebut.
Tapi, akhirnya di samping saya harus
kuliah didalam kereta api. Saya pun, mempersiapkan teks di kereta api sambil mempresentasikan
mata kuliah Ilmu Komunikasi. Banyak hal yang saya pikirkan pada saat itu,
karena ketika berada di Pesantren saya tidak tahu mau bahas apa nanti ketika
menjadi Khatib di rumah dan saya memang lebih senang pada sesuatu yang mendadak
atau disiapkan mendekati hari H nya mungkin, daripada harus menyiapkan dari
jauh hari. Dan, tentu hasilnya pun akan lebih maksimal. Seperti sidang karya
ilmiah dua tahun lalu, dimana dimalam hari tersebut saya tidak mempersiapkan
apapun. Tapi, saya fokus mendengarkan lagu-lagu kesenangan di ruangan kosong
pinggir Masjid Munirah Salamah.
Khutbah Idul Fitri tanpa “Tema Besar”
Sebelum hari H, saya sudah
menyiapkan isi teks Khutbah baik dari muqaddimah, isi, penutup, maupun doa dan
kutipan para Ulama. Tapi, bagi saya sulit membuat tema besar nya, jadi ketika
saya mulai menaiki podium mimbar di lapangan bebas tersebut. Barulah satu persatu
pembahasan saya uraikan. Dengan catatan, saya tidak menggunakan tema besar.
Artinya, apapun yang terbesit dalam pikiran dan yang hadir dalam lisan itu
adalah tema besar khutbahnya. Tapi, saya tidak keluar dari bagian-bagian inti
dan kesunahan Khutbah tersebut. Seperti yang Ustaz Yunal uraikan:
“Pada
intinya khutbah ied sama dengan khutbah Jum’at, rukunnya juga 5 (gak boleh
kurang, kalau kurang maka khutbahnya batal: Tahmid, Shalawat, Wasiat Taqwa,
Baca Ayat, dan doa di khutbah kedua).
Cuma
disunnahkan di awal khutbah pertama takbir 9x dan di awal khutbah kedua 7x.”
Isi Khutbah Idul Fitri Perdana
Pertama, saya memulai dengan
rasa syukur karena bulan Ramadhan ini satu persatu penyakit keluar dari bumi
pertiwi Indonesia ini. Dan, tentu Ramadhan 1442 H ini bernbeda dengan yang
lalu. Atau dapat dibilang Covid-19 sudah mulai meninggalkan jejak walaupun
langkah “larangan mudik” harus diberlakukan. Mengutip pesan Prof. Dr. Kh. Said
Aqil Siraj, Ma tentang puasa: “Ketika kita puasa dengan kesungguhan hati, hanya
karena Allah, maka secara otomatis kita telah ikut menjaga kestabilan
lingkungan, keamanan, dan ketertiban. Karena, sebagai seorang yang menjalankan
puasa (Shaim), kita tidak akan melangkahkan kaki dan mengayunkan tangan untuk
hal-hal yang keji dan buruk.”
Kedua, saya pun menguraikan
ayat tentang Taqwa pada surat al-Baqarah ayat 183. Tentu ayat ini sering dibaca
oleh Imam-Imam Shalat di Kampung-kampung atau Perkotaan. Dimana pada penggalana
ayat tersebut terdapat kata “tattaqun”. Pada saat itu, saya menyampaikan bahwa “Taqwa dalam ayat
tersebut berbentuk fiil mudhori’, yang bermakna hal/mustaqbal (sekarang/yang
akan datang). Artinya, taqwa itu tidak memiliki dimensi dan tanpa batas.”
Dan, tentu saya pun membahas tentang
makna “fitri” (suci). Bagaimana pun, tentu kita sering mendengar hadis
tentang kesucian anak yang baru lahir dari Rahim seorang Ibu. Teks tersebut
berbunyi, “Kullu mau’ludin Yu’ladu ala fitrah” (setiap anak terlahir
dalam keadaan suci). Dalam artian, anak tersebut tidak memiliki dosa dan beban
apapun. Oleh karena itu, berbanggalah orang tua yang melahirkan anak, lalu
kemudian anak itu meninggal setelah lahir atau sebelum baligh. Karena, itu
dapat menjadi perantara masuk ke dalam surganya Allah Swt.
Ketiga, saya pun tak lupa
membahas tentang Covid-19 dan kebijaksanaan pemerintah dalam menerapkan
larangan mudik. Pasalnya, banyak masyarakat yang belum mengerti tentang hal
tersebut. Oleh karena itu, saya sampaikan dengan melampirkan cerita Amirul mu’minin
Sayyidina Umar bin Khatab yang tidak jadi berangkat ke Syam karena waspada akan
cerita sahabat nya bahwa di Negeri Syam sedang terjadi Wabah yang sangat
mematikan. Oleh karena itu, larangan mudik adalah menyelamatkan diri sendiri
atau dalam Maqasid al-Syariah disebut dengan hifz al-Nafs.
Keempat, saya mengutip
beberapa perkataan Ulama yang sudah wafat maupun masih hidup, seperti almaghfurlah
Kh. Abdurrahman Wahid, Abi Quraish Syihab, Kh. Said Aqil Siraj, dan pesan Ustaz
Ahmad Ubaidi’ Hasbillah tentang covid-19, dan terakhir murid dari Habib Umar
bin Hafidz yaitu Habib Jindan bin Novel.
Kelima, ketika saya membaca
doa diakhir khutbah kedua. Saya pun, meniru gaya doa yang sering dibacakan oleh
almukarram Ustaz Muhammad Sofin Sugito dan doa yang selalu diistiqamahkan oleh
almaghfurlah Kh. Ali Mustafa Yaqub. Kalau diterjemahkan kebahasa Indonesia
menjadi seperti ini, “Ya Allah, pahamkanlah Kami ilmu agama dan ajarkanlah pengetahuan
yang mendalam” dan versi Ustaz Sofin “Kami ridho menjadikan Allah sebagai
Tuhan, Islam agama Kami, Nabi Muhammad Nabi dan Utusannya Allah, al-Qur’an
kitab suci Kami, ka’bah kiblat Kami, dan Indonesia sebagai tanah air dan bangsa
Kami”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar