Sabtu, 15 Mei 2021

Catatan tentang Tan Malaka 1

 


Membaca buku Tan Malaka

            Tan Malaka merupakan porter pemuda yang hebat, pemberani, bandel, dan nekat untuk melakukan banyak hal. Akan tetapi, tidak bisa kita pungkiri bahwasannya Ia merupakan pemuda yang jenius, cerdas, dan terkadang membuat guru-guru di sekolahnya kagum dengan kecerdasannya.

            Dalam usia yang tak begitu Muda atau bisa dikatakan masih relative kanak-kanak, Ia telah hafal Qur’an diluar kepala. Satu hal yang membuat nya menjadi pemuda tangguh mungkin karena tidak pernah meninggalkan Shalat, karena bagaimana pun Shalat merupakan kewajiban Kita sebagai Umat Islam.

            Menurut Djamaluddin Tamim, salah satu teman seperjuangan Tan Malaka dan penulis buku Kematian Tan Malaka menuliskan sejarah bahwa Tan Malaka lahir pada tanggal 2 Juni 1897. Bukan seperti sekarang yang kita dengar, ternyata Tan Malaka memiliki nama kecilnya adalah Ibrahim. Ayahnya bernama Rasad dari puak Chaniago  dan ibundanya bernama Sinah berasal dari puak Simabur.

            Dalam buku Massa Aksi pun, Khalid O. Santosa seorang penulis handal dan telah mengarang beberapa buku seperti Perjalanan Sang Jenderal Besar 1921-2008, Paradigma baru memahami Pancasila dan UUD 1945: sebuah rekonstruksi sejarah atas gagasan dasar Negara RI, consensus nasional, dan demokrasi, Manusia di panggung sejarah: Pemikiran dan Gerakan Tokoh-tokoh Islam, dan lain sebagainya. Ia pun, menuliskan Pesan Perjuangan Tan Malaka. Berikut isi pesan perjuangan tersebut

            “JIKA BISA membayangkan, pertanyaannya apa yang sempat muncul dalam pikiran Tan Malaka saat ia ditangkap bersama tumpukan buku-bukunya oleh sekelompok tentara, diiringi dengan tangan diikat, disekap di sebuah lumbung padi, kemudian ditembak mati. Mungkin ia tidak menduga sama sekali tindakan kejam dan biadab itu tega dilakukan oleh tentara bangsanya sendiri, yang telah perjuangkannya dengan segala kepahitan dan penderitaan. Bukankah sepanjang hidupnya ia telah keyang dengan berbagai penangkapan dan penahanan oleh tentara di berbagai Negara. Toh, semuanya tidak pernah diakhiri dengan eksekusi mati. Bahkan di negeri yang tidak pernah menginginkan kehadirannya sekalipun.

            Selama 51 tahun hidupnya, Tan Malaka menjelajahi tak kurang dari 21 tempat dan 11 negara dengan kondisi sakit-sakitan serta pengawasan ketat agen-agen Interpol. Mulai Minangkabau hingga berpetualang ke Belanda, Jerman, Inggris, Moskow, Filipina, Burma, Beijing, Thailand, dan kembali lagi ke Indonesia untuk bergerilnya ke Banten, Jakarta, Surabaya, Purwokerto, dan Yogyakarta. Semua perjuangan dan pengorbanan itu dilalui demi satu hal: Kemerdekaan Indonesia.”

                Pelarian Tan Malaka dari satu tempat ke tempat lainnya pun, memiliki banyak cobaan. Salah satu hal yang teringat oleh banyak orang ialah ketika Tan Malaka berkunjung kesuatu rumah, maka hal yang pertama Ia lakukan ialah menghadapkan wajahnya ke jendela. Karena, kecemasan yang muncul akan datang nya polisi rahasia Belanda, Jepang, Inggris, atau Amerika yang tiba-tiba menggrebek rumahnya. Ia pun, memiliki 23 nama palsu dan telah menjelajahi dua benua dengan total perjalanan sepanjang 89 ribu kilometer.

            Bukan hanya 23 nama palsu yang hadir di dalam dirinya, dalam proses petualangan tersebut ternyata ia telah menghasilkan 23 karya tulis yang turut menerangi obor revolusi. Seperti buku Massa actie, Semangat muda, Islam dalam tinjauan Madilog dan sebagainya.

 

~ Bersambung ~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Peran dan Kondisi Media Massa dan Demokrasi di Indonesia

​ Peran dan Kondisi Media Massa dan Demokrasi di Indonesia                              FAHRIZAL HISBULAH (11200510000130) Program Studi Kom...