Membaca buku
Tan Malaka
Tan Malaka
merupakan porter pemuda yang hebat, pemberani, bandel, dan nekat untuk
melakukan banyak hal. Akan tetapi, tidak bisa kita pungkiri bahwasannya Ia
merupakan pemuda yang jenius, cerdas, dan terkadang membuat guru-guru di sekolahnya
kagum dengan kecerdasannya.
Dalam usia yang
tak begitu Muda atau bisa dikatakan masih relative kanak-kanak, Ia telah hafal
Qur’an diluar kepala. Satu hal yang membuat nya menjadi pemuda tangguh mungkin
karena tidak pernah meninggalkan Shalat, karena bagaimana pun Shalat merupakan
kewajiban Kita sebagai Umat Islam.
Menurut
Djamaluddin Tamim, salah satu teman seperjuangan Tan Malaka dan penulis buku Kematian
Tan Malaka menuliskan sejarah bahwa Tan Malaka lahir pada tanggal 2 Juni
1897. Bukan seperti sekarang yang kita dengar, ternyata Tan Malaka memiliki
nama kecilnya adalah Ibrahim. Ayahnya bernama Rasad dari puak Chaniago dan ibundanya bernama Sinah berasal dari puak
Simabur.
Dalam buku Massa
Aksi pun, Khalid O. Santosa seorang penulis handal dan telah mengarang beberapa
buku seperti Perjalanan Sang Jenderal Besar 1921-2008, Paradigma baru memahami
Pancasila dan UUD 1945: sebuah rekonstruksi sejarah atas gagasan dasar Negara
RI, consensus nasional, dan demokrasi, Manusia di panggung sejarah: Pemikiran
dan Gerakan Tokoh-tokoh Islam, dan lain sebagainya. Ia pun, menuliskan Pesan
Perjuangan Tan Malaka. Berikut isi pesan perjuangan tersebut
“JIKA BISA
membayangkan, pertanyaannya apa yang sempat muncul dalam pikiran Tan Malaka
saat ia ditangkap bersama tumpukan buku-bukunya oleh sekelompok tentara,
diiringi dengan tangan diikat, disekap di sebuah lumbung padi, kemudian
ditembak mati. Mungkin ia tidak menduga sama sekali tindakan kejam dan biadab
itu tega dilakukan oleh tentara bangsanya sendiri, yang telah perjuangkannya
dengan segala kepahitan dan penderitaan. Bukankah sepanjang hidupnya ia telah
keyang dengan berbagai penangkapan dan penahanan oleh tentara di berbagai
Negara. Toh, semuanya tidak pernah diakhiri dengan eksekusi mati. Bahkan di
negeri yang tidak pernah menginginkan kehadirannya sekalipun.
Selama 51 tahun
hidupnya, Tan Malaka menjelajahi tak kurang dari 21 tempat dan 11 negara dengan
kondisi sakit-sakitan serta pengawasan ketat agen-agen Interpol. Mulai
Minangkabau hingga berpetualang ke Belanda, Jerman, Inggris, Moskow, Filipina,
Burma, Beijing, Thailand, dan kembali lagi ke Indonesia untuk bergerilnya ke
Banten, Jakarta, Surabaya, Purwokerto, dan Yogyakarta. Semua perjuangan dan
pengorbanan itu dilalui demi satu hal: Kemerdekaan Indonesia.”
Pelarian Tan
Malaka dari satu tempat ke tempat lainnya pun, memiliki banyak cobaan. Salah
satu hal yang teringat oleh banyak orang ialah ketika Tan Malaka berkunjung
kesuatu rumah, maka hal yang pertama Ia lakukan ialah menghadapkan wajahnya ke
jendela. Karena, kecemasan yang muncul akan datang nya polisi rahasia Belanda,
Jepang, Inggris, atau Amerika yang tiba-tiba menggrebek rumahnya. Ia pun,
memiliki 23 nama palsu dan telah menjelajahi dua benua dengan total perjalanan
sepanjang 89 ribu kilometer.
Bukan hanya 23
nama palsu yang hadir di dalam dirinya, dalam proses petualangan tersebut
ternyata ia telah menghasilkan 23 karya tulis yang turut menerangi obor
revolusi. Seperti buku Massa actie, Semangat muda, Islam dalam tinjauan Madilog
dan sebagainya.
~ Bersambung ~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar