Berjudul: Gus Dur Kisah Jenaka dan Pesan-Pesan
Keberagamaan
-
Demokrasi membutuhkan pengorbanan
“… demi tegaknya demokrasi, sanaknya keluarga, harta benda, maupun kedudukan
apapun yang mungkin dicapai, haruslah ditinggalkan dan dikorbankan oleh penulis
(Gus Dur, ed)…”
-
Mimpi dan Demokrasi
“Ada suatu kejadian menarik tentang
bagaimana Gus Dur memberikan pemahaman tentang demokrasi dengan kecerdikan dan
humornya. Dikutip dari alagraph .com (18 Desember 2018), bahwa
suatu waktu Gus Dur menghadiri acara diskusi tentang demokrasi. Dalam suatu
sesi, seperti biasa, Gus Dur ternyata tidur sampai kemudian dia dibangunkan
karena ada seorang peserta yang bertanya kepadanya.
“Ini diskusi tentang demokrasi ya?
Nah, kebetulan tadi saya tidur dan mimpi bertemu Bung Karno. Beliau menjelaskan
kepada saya tentang demokrasi yang dipidatokan pada tanggal 1 Juli itu,” kata
Gus Dur langsung memulai pembicaraan. Tapi belum selesai Gus Dur berbicara,
seorang peserta memprotes dirinya.
“Tolong yang serius dong. Ini kan penataran tingkat nasional, masak kita
mau membahas mimpi. Topik ini serius, janganlah kita membahas ke soal-soal
mimpi,” kata peserta itu.
Setelah menyimak protes tadi, Gus Dur kemudian menjawab:
“Bagaimana anda-anda ini mau berbicara dan membangun demokrasi kalau mimpi saja
dilarang? Di dalam demokrasi itu ada kebebasan termasuk bebas bermimpi. Kalau
anda berani melarang orang bermimpi, pasti anda berani melarang orang lain
menggunakan haknya yang lebih penting. Itu bertentangan dengan demokrasi,”
tukas Gus Dur.
-
Beragama dan Berdemokrasi
“… informasi dan ekspresi diri yang
dianggap merugikan Islam sebenarnya tidak perlu terlalu “dilayani”. Cukup
diimbangi dengan informasi dan ekspresi diri
yang “positif konstruktif”. Kalau
gawat, cukup dengan jawaban yang mendudukan persoalan secara dewasa dan biasa-biasa saja. Tidak perlu
dicari-cari. Islam perlu dikembangkan, tidak untuk dihadapkan pada serangan
orang. Kebenaran Allah tidak akan berkurang sedikit pun dengn adanya keraguan
orang. Tidak lagi merasa bersalah berdiam diri. Tuhan tidak perlu dibela..”
-
Memilih Kebangsaan, bukan Keumatan
“… demokrasi hanya dapat tegak dengan keadilan.
Kalau Islam menopang demokrasi maka Islam juga menopang keadilan. Ini penting
sekali sebagaimana difirman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman, hendaknya
kalian menegakkan keadilan.” Ini perintah yang sangat jelas. Yakni perlunya
ditegakkan keadilan dalam segala bentuk, baik keadilan hokum, keadilan politik,
keadilan budaya, keadilan, ekonomi, maupun keadilan sosial. Keadilan sosial ini
sangat penting karena patokan Islam adalah kaidah fikih: Langkah dan
kebijaksanaan para pemimpin mengenai rakyat yang mereka pimpin haruslah terikat
sepenuhnya dengan kesejahteraan rakyat yang mereka pimpin itu. Karena
orientasinya adah kesejahteraan, maka dipentingkan adanya keadilan. Dan
orientasi kesejahteraan inilah yang membuktikan demokratis atau tidaknya
kehidupan suatu masyarakat.”
-
Ancaman
demokrasi
“Negeri kita tidak mengalami kenyataan
demokratis ini, melainan mengadapi dilemma lain lagi. Pers kita sudah menjadi
begitu merdeka, hingga mereka pun memuat saja berita fitnah atau kabar bohong,
selama ada kekuatan politik “demokratis” yang mereka ikuti. Celakanya,
partai-partai politik yang menerapkan kerangka itu, masih kuat sekali
melaksanakan KKN. Mereka menakut-nakuti penerapan kedaulatan hokum, dan dengan
demikian –merka menciptakan fitnahan dan kabar bohong tersebut untuk menutupi
KKN yang mereka lakukan. Yang terpenting bagi mereka, asal KKN yang mereka
lindungi terbebas dari penerapan kedaulatan hokum secara tuntas.”
-
Pancasila dan Islam
“Pancasila ditempatkan kaum muslimin sebagai
landasan konstitusional dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sedangkan
Islam menjadi aqidah dalam kehidupan kaum muslim. Ideologi konstitusional tidak dipertentangkan dengan
agama, tidak menjadi pentingnya (agama, ed) dan tidak diperlukan sebagai agama.
Dengan demikian, tidak akan diberlakukan Undang-Undang maupun peraturan yang
bertentangan dengan ajaran agama.”
-
Demokrasi di ambang pintu
“…bangsa kita sudah tiba benar-benar
pada ambang pintudemokrasi. Apalah artinya korban-korban yang berjatuhan dalam
begitu banyak perjuangan kemerdekaan kita, termasuk peristiwa Universitas
Trisakti dan Semanggi pada tahun 1998, jika kita tidak berani menegakkan
demokrasi yang sebenarnya melalui pemilu legislatif tahun ini?”
-
Rendah Hati Melihat Manusia
“Begitu banyak rahasia menyelimuti masa lampau
kita, sehingga tidak layak jika kita bersikap congkak dengan tetap menganggap
diri kita benar dan orang lain salah. Diperlukan kerendahan hati untuk melihat
semua yang terjadi itu dalam perspektif perikemanusiaan, bukannya secara
ideologis. Kalau kita menggunakan kacamata ideologis saja, maka sudah tentu
akan sangat mudah bagi kita untuk menganggap diri sendiri benar dan orang lain
bersalah. Ini bertentangan dengan hakikat kehidupan bangsa kita yang demikian
beragam. Kebhinekaan/keberagaman justru menunjukan kekayaan kita yang sangat besar.
Karenanya kita tidak boleh menyalahkan siapa-siapa atau kemelut yang masih
menghinggapi kehidupan bangsa kita saat ini.”
-
Menghargai Keberagaman
“memelihara keadilan hukum tdak dapat
dilakuakan dengan cara melanggar hukum itu. Memang mudah diucapkan tetapi sulit
dilaksanakan, bukan?”
-
Perbedaan sebagai Kekayaan
“…perbedaan cara hidup adalah
sesuatu yang wajar. Ini termasuk dalam apa yang dimaksudkan oleh kitab suci
Alquran:”Dan telah ku buat kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku bangsa, agar
kalian saling mengenal (Wa ja’alnakum syu’uban ila li ta’arafu).”
Perbedaan pandangan atau pendapat adalah sesuatu yang wajar bahkan akan
memperkaya kehidupan kolektif kita, sehingga tidak perlu ditakuti. Kenyataan
inilah yang mengiringi adanya perbedaan kultural (dan juga politik) antara
berbagai kelompok Musimin yang ada kawasan-kawasan dunia.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar